Minggu, 14 Agustus 2016

Tugas Tambahan yang diakui sesuai Permendikbud No. 17 Tahun 2016 di Aplikasi Dapodik

Sesua dengan Permendikbud No. 17 Tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Tunjangan Profesi dan tambahan penghasilan bagi guru Pegawai negeri Sipil Daerah.

Tugas tambahan yang diakui sesuai Permendikbud No. 17 Tahun 2016

1. Kepala sekolah (18 jam/40 orang siswa binaan)
2. Narasumber nasional/instruktur nasional/tim pengembang/mentor untuk guru pembelajar atau pelaksanaan diklat kurikulum (12 jam/80 orang siswa binaan)
3. Wakasek (12 Jam/80 orang siswa binaan) dengan ketentuan:


  • SD tidak ada wakil kepala sekolah 
  • SMP minimal 1 orang. makslmal 3 orang 
  • SMA/SMK minimal 3 orang maksimal 4 orang 

4. Kepala Perpustakaan untuk jenjang SD. SMP dan SMA/SMK (12 jam)
S. Kepala Laboratorium/Bengkel untuk jenjang SMP dan SMA/SMK (12 jam)

  • Untuk SMP 1 orang kepala laboratorlum 
  • Untuk SMA sejumlah Program Peminatan/Program Keahllan yang ada dl sekolah 

Pengangkatan Kepala Perpustakaan dan Kepala Laboratorium/Bengkel harus mengacu pada standar sarana dan prasarana dan atas persetujuan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/ Provinsi.

Untuk lebih lengkapnya silahkan bisa didownload Permendikbud Nomor 17 tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Tunjangan Profesi DISINI/
Siswa SDN Pangilen 1 Mengikuti Lomba Gerak Jalan

Jumat, 29 Juli 2016

PRESIDEN JOKOWI TITIP 2 PROGRAM KHUSUS KEPADA MENDIKBUD BARU

Presiden Joko Widodo menitipkan dua program khusus yang harus menjadi perhatian bagi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang baru, Muhadjir Effendy. Dua program yang diminta tersebut adalah memperdalam pendidikan vokasi dan optimalisasi Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Presiden Titip Dua Program Khusus

“Saya tidak punya visi misi, visi dan misi itu milik presiden. Saya pembantu yang mencoba menerjemahkan ke dalam program yang ada di kementerian,” ujar Muhadjir usai serah terima jabatan dengan Anies Baswedan di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jakarta, Rabu (27/7).

Muhadjir mengatakan penekanan yang diberikan oleh presiden pada dua hal tersebut tak lain untuk memperpendek jurang kesenjangan di pendidikan dan anak usia sekolah bisa mendapatkan akses pendidikan melalui KIP. Sementara, pendidikan vokasi bertujuan untuk penyediaan tenaga kerja.

“Untuk kurikulum dan guru tidak masalah. Itu merupakan permasalahan klasik, yang harus tetap diselesaikan. Permasalahan guru honorer, kita lihat dulu dan kaji masalahnya,” cetus dia. Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu berjanji akan meneruskan program yang dirintis oleh Mendikbud sebelumnya, karena program yang sudah berjalan tersebut tidak bisa dipenggal-penggal.

“Saya perlu mengaji program-program sebelumnya, agar tidak terputus.” Begitu juga dengan struktur organisasi di Kemdikbud sendiri, Muhadjir mengaku tak ingin terburu-buru melakukan perombakan. “Kalau tidak perlu, mengapa harus diubah lagi,” tukas dia.

Sementara itu, Anies Baswedan mengatakan seluruh program utama yang diamanahkan Presiden Jokowi kepadanya sudah dijalankan. Pertama soal akses, melalui Program Indonesia Pintar (PIP). Kemudian juga melalui pemberdayaan sekolahsekolah di garis depan, terkait dengan salah satu butir di nawacita untuk hadir di daerah pinggiran.

“Sekolah Garis Depan dibangun, kemudian disiapkan Guru Garis Depannya,” terang mantan Universitas Paramadina ini. Ia menitipkan
program neraca pendidikan agar dilanjutkan oleh Muhadjir.

“Setelah pendidikan di otonomi daerahkan dan kita mulai tahun ini buat neraca pendidikan daerah dan kita berharap neraca pendidikan bisa diteruskan setap tahun sehingga membantu proses peningkatan mutu di tiap daerah,” ujarnya.

Kemudian ada juga program yang menurut Anies krusial, di antaranya penumbuhan budi pekerti. “Yang sudah jalan dan kita harap semua bisa diteruskan,”ungkapnya.

Sejumlah Persoalan
Secara terpisah, pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina, Mohammad Abduhzen berpendapat, ada sejumlah persoalan yang harus mendapat perhatian khusus dari Mendikbud baru. Terutama terkait persoalan pengelolaan guru. Bukan rahasia lagi, bahwa pengelolaan guru sangat kompleks di Indonesia.

Persoalan guru pun kerap muncul bahkan terus berulang setiap tahunnya. Muhajir juga menghadapi tantangan bagaimana membuat sistem pengelolaan guru yang komprehensif, tidak parsial seperti sekarang ini.

“Pengelolaan guru membutuhkan skema yang komprehensif, mulai dari perekrutan, peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru, sertifikasi guru, guru honorer harus ada skema yang menyeluruh,” tegasnya.

Abduhzen juga meminta Muhadjir untuk melanjutkan program-program yang sudah dicapai Anies dengan baik. Diantaranya soal penghapusan Masa Orientasi Siswa yang berpptensi terjadinya perpeloncoan, bullying, dan kekerasan di sekolah, kemudian menggantinya dengan Program masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS).

“Anies sangat bagus di program itu, jadi baiknya dilanjutkan,” imbuhnya. Ia menambahkan, Muhajir harus mempertajam orientasi pendidikan dan pencegahan radikalisme dari sisi pendidikan. “Kurikulum terkait itu harus dipertegas, juga program untuk vokasi, bonus demografi dan generasi emas harus disiapkan dari sekarang,”tutupnya

Ini Alasan Presiden Copot Menteri Anies Baswedan

Alasan Presiden Copot Menteri Anies Baswedan
Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi mencopot Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan dan menunjuk Muhajir Effendi sebagai penggantinya. Anies dicopot dari kabinet kerja karena dinilai tidak melakukan gebrakan yang cepat selama menjabat sebagai Mendikbud.

Baca juga: Menteri Baru, Bagaimana Nasib Kurikulum dan Guru?

"Pak Anies juga bekerja dengan baik, tapi tentunya ada ekspektasi yang diinginkan Presiden dan Wapres ke depan ini yang mungkin berbeda," kata Sekretaris Kabinet, Pramono Anung yang kutip dari Merdeka (29/07/16).

Menurut Pramono, Anies menyambut baik atas perombakan kabinet jilid II ini. Hal ini diketahui setelah Presiden memanggilnya pada Selasa
(26/7) malam. "Alhamdulillah semua menteri bisa menerima dengan baik," jelasnya.

Terkait pergantian tersebut, Direktur Eksekutif Charta Politica Yunarto Wijaya menilai Anies diganti bukan karena korban politik kompromi. Menurut Yunarto, Anies diganti karena kinerjanya yang kurang baik.

“Memang ada faktor yang terukur yang bisa dihitung oleh Jokowi yang membuat Anies sampai terbuang. Yang menggantikan Anies kan bukan parpol, sulit menerka Anies korban politik komproni dari level atas,” kata Yunarto yang kutip dari Berita Satu (29/07/16).

Publik memang mempertanyakan mengapa Anies diganti. Menurutnya, Anies adalah tokoh yang populis, namun kinerjanya memimpin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belum terukur. Presiden Jokowi pernah mengkritik pelaksanaan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang tidak dilakukan secara baik.

"Tapi apakah kita juga telah melihat kinerjanya secara terukur? kan tidak juga. Ini mispersepsi. Pak Jokowi pernah melakukan kritik terhadap pelaksanaan program Kartu Indonesia Pintar (KIP), yang tidak dilakukan secara baik oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," jelas Yunarto.http://www.sekolahdasar.net/

Sabtu, 20 Juni 2015

Menjadi OPS (oprator sekolah) haruslah ikhlas, sabar dan jangan berharap sesuatu yang mungkin hanyalah berupa angan-angan dan wacana semata. Sejak dulu, banyak sekali posting-posting di berbagai blog atau media-media sosial yang kadang membuat oprator terlalu berharap dengan wacana-wacana berupa honor, gaji dan lain-lain yang datang dari pemerintah. Padahal, semua itu hanyalah berupa bualan belaka yang sampai sekarang tidak ada kelanjutannya. yang ada hanyalah Oprator sekolah terus bekerja input data dan sinkronisasi data.

Sebagai oprator sekolah, hendakalah selalu bekerja secara profesional dan penuh ikhlas. Ikhlas pada hakikatnya adalah honor yang paling besar di bandingkan dengan honor-honor berpua materi. Berharap kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah yang paling tepat daripada berharap dari pemerintah yang hanya berupa niscaya.

Menjadi OPS (oprator sekolah) juga haruslah tidak mengeluh. Jika siswa mendpaatkan sesuatu dari program indonesia pintar , Insya Allah oprator sekolah akan mendapatkan yang lebih dari itu. baik dari kepala sekolah atau yang terpenting dari Allah SWT.

Sejak awal tahun 2014, pertama kali membaca kabar tentang wacana terkait. dan di tahun 2014 pula muncul banyak posting dan artikel di blog-blog yang memberitakan hal serupa. namun, hingga pertengahan tahun 2015 ini, belum ada kelanjutan dari posting tersebut. dan sampai saat ini, berita itu masih saja ada dan bermunculan. 

Mungkin, dengan adanya berita-berita tersebut menjadi penyemangat buat oprator sekolah untuk lebih bekerja secara maksimal. Namun tidak baik rasanya jika selalu memberi harapan yang tak pernah pasti akan kejelasannya. 

Saya menghimbau kepada seluruh oprator sekolah se Indonesia agar jangan terprovokasi terhadap berita-berita yang tidak jelas sumbernya. Tetaplah selalu bekerja dan hentikan membaca artikel atau postingan-postingan sampah yang hanya akan memberi harapan palsu.

Saya adalah Oprator Sekolah dan Saya Bangga..... !
Salam Satu Data ......